Kaum madyan kebanyakan bekerja sebagai

Kaum madyan kebanyakan bekerja sebagai

Jawaban: 

Kaum Madyan kebanyakan bekerja sebagai : Pedagang dan bertani

 

Pembahasan :

Kamu Tahu enggak sih kaum Madyan itu siapa?

MADYAN

Madyan termasuk negeri Arab. Penduduknya pun berasal dari suku Arab. Mereka tinggal di Ma’an, suatu daerah di perbatasan Syam (Suriah). Kaum Madyan bekerja sebagai petani. Mereka dikaruniai tanah yang subur oleh Allah Swt. sehingga mereka bisa bercocok tanam. Karena kesuburan tanahnya itu, kekayaan mereka pun melimpah dari hasil pertanian. Tapi mereka tetap tidak mensyukuri nikmat Allah Swt. tersebut.

AIKAH

Penduduk Madyan sudah lama melupakan ajaran para nabi. Mereka tidak menyembah Allah Swt., melainkan menyembah Aikah, sebidang tanah yang ditumbuhi sejumlah pohon. Kehidupan kaum Madyan yang bergantung pada pertanian dan perkebunan membuat mereka merasa dekat dengan tanah tersebut. Mereka menganggap tanah itu dapat mendatangkan kekayaan dan kemakmuran bagi mereka sehingga mereka lalu meminta pertolongan dan menyembahnya.

BERLAKU CURANG

Selain bertani, penduduk Madyan juga berdagang. Namun dalam melakukan transaksi perdagangan, mereka sering berbuat tidak jujur dan saling menipu. Takaran dan timbangan dagang mereka curangi Apabila membeli, mereka menggunakan alat ukur yang besar, dan jika menjual, mereka menggunakan alat ukur yang kecil.

AZAB ALLAH SWT.

Allah Swt. mendatangkan azab-Nya kepada kaum Madyan berupa udara panas. Karena udara sangat panas, mereka merasa haus sepanjang hari sekalipun telah banyak minum. Kekeringan juga menimpa tanah pertanian mereka. Azab itu sungguh menyengsarakan kaum Madyan. Tiba-tiba awan hitam datang menutupi negeri Madyan. Para penduduk mengira akan turun hujan. Mereka gembira dan berkumpul di bawah awan hitam. Namun tiba-tiba petir menyambar mereka dan gempa bumi menggoncang negeri Madyan. Kaum Madyan pun binasa.

Nah,dari kisah di atas dapat kita ambil hikmahnya. sadrkah kalian kalau sekarang apa yang dilakukan kaum madyan banyak dijumpai pada zaman sekarang ini. Banyak pedagang yang mengurangi timbangan dan takaran dalam transaksi yang mereka lakukan dengan para pembeli. Perintah Allah kepada setiap pedagang. ”Dan, tegakkanlah timbangan itu dengan adil dan jangan mengurangi takaran itu.” (QS Arrahman: 9).  Dalam ayat lain, Allah menunjukkan perilaku dari para pedagang yang curang tersebut. ”Kecelakaan besarlah bagi orang-orang yang curang, yaitu orang-orang yang apabila menerima takaran dari orang lain mereka minta dipenuhi dan apabila mereka menakar atau menimbang untuk orang lain, mereka mengurangi.” (Al-Muthaffifin: 1-3).

 

Semoga kita terhindar ya dari perilaku curang seperti yang dilakukan kaum madyan.